Tangsel-Kabarmetro.co
Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan terus memperkuat komitmennya dalam membangun ketahanan keluarga melalui program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Tahun 2026. Program ini menjadi langkah strategis untuk memastikan setiap calon pengantin memiliki bekal pengetahuan, kesiapan mental, serta spiritual sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Sebagai bagian dari persiapan, Kemenag Tangsel melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam menggelar rapat koordinasi pada Rabu (8/4/2026) di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), operator Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) se-Kota Tangerang Selatan, serta melibatkan unsur lintas sektor seperti DP3AP2KB, Dinas Kesehatan, dan perwakilan Puskesmas.
Kepala Kantor Kemenag Kota Tangerang Selatan, Ahmad Rifaudin, menegaskan bahwa Bimwin bukan sekadar agenda rutin, melainkan program strategis yang harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Bimbingan Perkawinan tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial. Pelaksanaannya harus terencana, berkualitas, dan berorientasi pada lahirnya keluarga yang siap secara mental, spiritual, serta mampu menghadapi dinamika rumah tangga,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penyusunan materi yang relevan dengan tantangan keluarga modern, pendekatan edukatif dan humanis, serta kolaborasi aktif antarinstansi agar manfaat program benar-benar dirasakan oleh calon pengantin.
Sementara itu, Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Tangsel, M. Edi Suharsongko, menyampaikan bahwa pelaksanaan Bimwin 2026 dijadwalkan mulai April dengan target sebanyak 1.750 peserta.
“Kami berharap seluruh KUA dapat mempersiapkan pelaksanaan dengan baik serta memperkuat kolaborasi bersama pemerintah kecamatan, kelurahan, Puskesmas, dan DP3AP2KB agar kualitas penyelenggaraan Bimwin semakin optimal,” jelasnya.
Melalui persiapan yang matang dan sinergi berbagai pihak, Kemenag Tangsel optimistis Bimwin 2026 mampu melahirkan keluarga yang kuat, harmonis, dan berkualitas. Upaya ini dinilai penting sebagai fondasi dalam membangun peradaban bangsa yang dimulai dari keluarga yang sehat, tangguh, dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
( Okta)














