Oleh: Tri Agus, –
Siapa yang tidak kasihan melihat nasib para pedagang di Pasar Shopping Metro? Setiap hari mereka bekerja di tempat yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Bangunan tua yang tiangnya sudah miring, balok lantai retak, dan atap yang nyaris rubuh menjadi saksi bisu betapa besar risiko yang mereka tanggung setiap detik.
Nyawa mereka taruhannya. Kapan saja gedung itu bisa ambruk menimpa siapa saja yang ada di dalamnya. Namun, di tengah ketakutan dan penderitaan itu, ada satu hal yang justru berjalan sangat lancar dan konsisten: praktik Pungli atau pungutan liar.
Bangunan Rusak, “Iuran” Tetap Lancar
Ini adalah ironi yang sangat menyakitkan. Di satu sisi, pemerintah seolah “tidak mampu” atau lambat untuk memperbaiki fasilitas dan menjamin keselamatan. Bangunan dibiarkan rusak parah, tidak laik huni, dan membahayakan jiwa.
Tapi di sisi lain, urusan memungut uang sepertinya memiliki sistem yang sangat rapi dan disiplin. Ada saja oknum yang datang silih berganti meminta uang dengan berbagai dalil: uang keamanan, uang kebersihan, uang perizinan, hingga uang “jasa” lainnya yang tidak jelas dasar hukumnya.
Pedagang dipaksa merogoh kocek setiap hari atau setiap bulan, padahal penghasilan mereka pun tak menentu karena sepi pembeli dan takut berdagang di tempat berbahaya. Mereka dipaksa membayar untuk fasilitas yang bahkan sudah tidak layak disebut fasilitas.
Ketika Rasa Takut Tidak Menghalangi Serakah
Yang paling mengejutkan adalah ketidakpekaan nurani dari para pelaku pungli tersebut. Apakah mereka tidak melihat kondisi atap yang mau jatuh? Apakah mereka tidak melihat dinding yang sudah retak lebar?
Seharusnya, melihat kondisi yang sedemikian bahaya, hati nurani akan berkata: “Ini orang-orang sudah susah dan takut, biarkan saja mereka, jangan dipungut bayaran dulu sampai tempatnya aman.”
Tapi nyatanya tidak. Rasa kemanusiaan seolah hilang tertutup oleh keserakahan. Selama masih ada orang yang berani berdagang di sana, selama itu pula tangan-tangan jahil akan terus mengulur untuk meminta bagian. Bahkan di tempat yang mau ambruk pun, uang rakyat tetap harus diperas.
Pemkot Diminta Bertindak Dua Arah
Situasi ini menuntut tanggung jawab besar dari Pemerintah Kota (Pemkot) Metro. Jangan hanya fokus pada urusan administrasi dan pemungutan dana, tapi lupa pada aspek keselamatan dan kesejahteraan.
Pemkot harus segera melakukan dua hal sekaligus: Pertama, bertindak tegas memberantas segala bentuk pungutan liar di area pasar tersebut. Hentikan semua pungutan yang tidak jelas dasar hukumnya, apalagi mengingat fasilitas yang diberikan sangat minim dan berbahaya.
Kedua, segera ambil keputusan berani soal kelayakan bangunan. Jangan main-main dengan nyawa manusia. Jika sudah rawan ambruk, kosongkan, relokasi pedagang, dan perbaiki atau bangun ulang.
Jangan Biarkan Rakyat Menderita Dobel
Pedagang sudah menderita karena harus bekerja di tempat yang menakutkan. Jangan tambah penderitaan mereka dengan membebani biaya-biaya yang tidak wajar.
Ini adalah momen untuk membuktikan bahwa pemerintah hadir untuk melindungi, bukan untuk memeras. Jika bangunan sudah mau ambruk tapi pungli masih berjalan, itu artinya sistem di sana sudah sakit parah dan harus segera disembuhkan.
(TAW)
Catatan Redaksi: Opini ini hanyalah salah satu karya dari TAW, Aktifis sekaligus Penulis Jalanan menyikapi kegelisahan hati yang menggambarkan sebagian akan keresahan publik. Apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan atas karya ini, bisa melakukan sanggahan maupun upaya hukum lainnya.













