Tangsel-Kabarmetro.co
JikaVoltaire menulis Candide di Indonesia pasca-Reformasi 1998, mungkin kisahnya akan dimulai dengan seorang pemuda yang percaya bahwa jatuhnya rezim otoriter akan otomatis membawa keadilan, kemakmuran, dan kebahagiaan bagi seluruh rakyat.
Ia diajarkan bahwa demokrasi adalah jawaban atas segala persoalan. Pemilu yang bebas dianggap cukup untuk menghilangkan korupsi. Kebebasan pers diyakini akan menghapus kebohongan. Otonomi daerah diperkirakan akan mempercepat kesejahteraan. Seperti Candide yang percaya bahwa ia hidup di “dunia terbaik yang mungkin ada”, pemuda itu percaya bahwa Reformasi akan segera melahirkan Indonesia yang ideal.
Namun perjalanan waktu mengajarkan hal lain.
Demokrasi memang hadir, tetapi politik uang juga berkembang. Kebebasan berbicara tumbuh, tetapi bersamaan dengan penyebaran hoaks dan polarisasi. Otonomi daerah membuka ruang partisipasi masyarakat, tetapi juga melahirkan berbagai kasus korupsi di tingkat lokal. Pertumbuhan ekonomi meningkat, tetapi ketimpangan sosial tetap menjadi persoalan.
Seperti Candide yang menyaksikan perang, bencana, kemiskinan, dan keserakahan manusia, masyarakat Indonesia menyaksikan berbagai peristiwa yang mengguncang optimisme awal Reformasi: krisis ekonomi, konflik sosial, bencana alam, korupsi berjamaah, pertarungan elite politik, hingga ketegangan identitas yang kadang muncul dalam ruang publik.
Di tengah semua itu, selalu ada dua kelompok yang saling berhadapan.
Kelompok pertama berkata:
“Semua baik-baik saja. Demokrasi kita sudah berhasil. Kritik hanya bentuk pesimisme.”
Kelompok kedua berkata:
“Tidak ada yang berubah. Reformasi gagal total. Semua sia-sia.”
Dalam bahasa Voltaire, kelompok pertama menyerupai Pangloss yang selalu optimistis apa pun yang terjadi. Kelompok kedua menyerupai Martin yang melihat dunia hanya dari sisi gelapnya.
Padahal kenyataan Indonesia lebih kompleks daripada kedua pandangan tersebut.
Indonesia tidak menjadi surga politik seperti Eldorado dalam Candide. Namun Indonesia juga tidak runtuh menjadi negara gagal sebagaimana sering diramalkan oleh para pesimis.
Demokrasi Indonesia berjalan dengan segala kekurangannya. Kemiskinan menurun dibanding masa krisis 1998, meskipun belum hilang. Infrastruktur berkembang pesat, meskipun masih terdapat kesenjangan antarwilayah. Pendidikan semakin terbuka, tetapi kualitasnya belum merata. Kebebasan sipil meningkat dibanding masa otoritarian, tetapi tetap menghadapi berbagai tantangan.
Pada akhirnya, pelajaran Voltaire bagi Indonesia bukanlah untuk terus-menerus memperdebatkan apakah Reformasi berhasil atau gagal secara mutlak.
Pelajaran itu justru terdapat pada kalimat penutup Candide:
“Kita harus mengolah kebun kita.”
Dalam konteks Indonesia, “mengolah kebun” berarti:
Aparatur negara memperbaiki pelayanan publik.
Politisi memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Akademisi menghasilkan pengetahuan yang berguna.
Aktivis mengawasi kekuasaan secara kritis.
Pengusaha menciptakan lapangan kerja.
Warga negara menjalankan tanggung jawab sosialnya.
Voltaire seolah mengingatkan bahwa bangsa tidak dibangun oleh optimisme kosong maupun pesimisme yang lumpuh, melainkan oleh kerja nyata yang terus-menerus.
Mungkin narasi yang paling realistis tentang Indonesia pasca-Reformasi adalah ini:
Reformasi bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari pekerjaan panjang yang tidak pernah selesai. Demokrasi tidak otomatis menghasilkan keadilan, sebagaimana kebebasan tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan. Karena itu, tugas setiap generasi bukan mengagumi Reformasi atau mengutuknya, melainkan terus “mengolah kebun” Indonesia agar sedikit lebih baik daripada yang mereka warisi.
( Okta)













