Tangsel-Kabarmetro.co
Pemerintah Kota Tangerang Selatan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi musim kemarau serta potensi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau. Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Tingkat Kota Tangerang Selatan yang digelar di Hotel Grand Zuri Serpong, Jumat (11/9/2026).
Rapat tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tangerang Selatan Ahmad Rifaudin, serta sejumlah unsur organisasi perangkat daerah (OPD).
Dalam pembahasan, Pilar menekankan pentingnya perhatian terhadap kualitas udara dan kondisi lingkungan selama musim kemarau. Ia juga meminta jajaran OPD meningkatkan pemantauan di tengah masyarakat dan mencegah aktivitas yang berpotensi memperburuk kualitas udara, salah satunya pembakaran sampah.
Sementara itu, Ahmad Rifaudin menyampaikan bahwa Kemenag memiliki sejumlah peran yang dapat diperkuat dalam mendukung kesiapsiagaan masyarakat. Salah satunya melalui jaringan penyuluh agama, kepala Kantor Urusan Agama (KUA), madrasah, pesantren, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), majelis taklim, serta pengurus rumah ibadah.
Menurut Ahmad, jaringan tersebut dapat membantu menyampaikan informasi yang akurat sekaligus menjaga ketenangan masyarakat ketika menghadapi situasi yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran.
Selain penyampaian informasi, Kemenag juga mendorong penguatan literasi kebencanaan melalui pendekatan keagamaan. Materi yang disampaikan dapat mencakup kesiapsiagaan menghadapi bencana, penghematan air, menjaga kesehatan, serta kepedulian terhadap lingkungan.
“kita perlu membangun gerakan solidaritas sosial. Kemarau jangan hanya dilihat sebagai persoalan kekurangan air, tetapi juga momentum menumbuhkan kepedulian, misalnya melalui gerakan hemat air dan sedekah air,” ujar Ahmad.
Ia menambahkan, aspek keagamaan juga dapat menjadi bagian dari upaya masyarakat menghadapi kondisi kemarau berkepanjangan. Apabila situasi tersebut terus berlangsung, umat Islam dapat melaksanakan Shalat Istisqa dan doa bersama sebagai bagian dari ikhtiar keagamaan.
Dalam konteks potensi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau, Ahmad mengatakan jaringan keagamaan juga dapat berperan sebagai simpul penyebaran informasi, bantuan kemanusiaan, serta penguatan psikososial masyarakat. Namun, pelaksanaannya perlu tetap mengacu pada informasi resmi dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)”
Koordinasi lintas sektor dinilai penting untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang tepat serta memahami langkah yang perlu dilakukan apabila terjadi kondisi darurat. Upaya tersebut mencakup pemantauan lingkungan, pencegahan aktivitas yang dapat memperburuk kualitas udara, penghematan air, hingga penguatan kesiapsiagaan masyarakat.” Ungkap Nya.
Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat, kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak musim kemarau maupun aktivitas Gunung Anak Krakatau diharapkan dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi dan berbasis informasi ya ng akurat.
( Okta)














