Tangsel-Kabarmetro.co
Upaya memperkuat pendidikan anak usia dini yang ramah anak terus dilakukan di Kota Tangerang Selatan. Salah satunya diwujudkan melalui Seminar IGRA Kota Tangerang Selatan bertema “Penguatan Kompetensi Kepala RA dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam” yang digelar pada Sabtu, 9 Mei 2026, di SD Al Amanah, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan.
Kegiatan tersebut diikuti oleh para Kepala Raudhatul Athfal (RA) dari 97 lembaga se-Kota Tangerang Selatan. Seminar menghadirkan Fasilitator Nasional Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Kementerian Agama RI, Inti Farhati, serta Amran Dawang dari Suara Harapan Bersama sebagai narasumber utama.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan Ahmad Rifaudin, Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) Pudin Saepudin, Ketua Pokjawas Tepuri Ali, Pengawas RA Hadijah dan Rokib, Ketua PD IGRA Tangsel Aat Muslihat, serta jajaran pengurus PD IGRA Kota Tangerang Selatan.
Ketua PD IGRA Tangsel, Aat Muslihat, menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini membutuhkan pendekatan yang lebih menyentuh sisi kemanusiaan anak. Menurutnya, kurikulum yang diterapkan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga harus menghadirkan suasana belajar yang hangat dan penuh kasih sayang.
“Anak-anak tidak membutuhkan kurikulum yang kaku, tetapi membutuhkan ekosistem yang hangat melalui kurikulum berbasis cinta. Mengajar dengan hati akan sampai ke hati, sehingga pesan-pesan kebaikan dapat membekas sepanjang hidup anak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kota Tangerang Selatan Ahmad Rifaudin menyampaikan bahwa guru RA memiliki peran strategis dalam menciptakan ruang belajar yang ramah anak, penuh cinta, serta sarat nilai-nilai Islami.
“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga sahabat jiwa, penuntun akhlak, dan penanam harapan. Guru yang mengajar dengan cinta akan melahirkan anak-anak yang belajar dengan bahagia,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, IGRA Kota Tangerang Selatan berharap implementasi pendidikan berbasis cinta dapat semakin diperkuat di seluruh lembaga RA. Pendekatan tersebut dinilai penting dalam membangun karakter, empati, serta akhlakul karimah anak sejak usia dini sebagai fondasi menuju Generasi Indonesia Emas 2045.
( Okta)













