HARDIKNAS DAN PR MORAL-MENTAL PENDIDIKAN: KACA MATA SOSIOLINGUISTIK
Oleh: Dr. Diana Anggraeni, S.S.,M.Hum.
Dosen Sastra Inggris Universitas Bangka Belitung
Hari Pendidikan Nasional 2 Mei bukan sekadar seremonial upacara dan pidato. Hardiknas 2026 seharusnya jadi momentum menengok kembali wajah moral dan mental ekosistem pendidikan kita. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia 2025 mencatat 2.312 kasus kekerasan di satuan pendidikan, naik 11% dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, perundungan di media sosial oleh pelajar justru menormalisasi ujaran kebencian sebagai “candaan”.
Pertanyaannya: di mana peran bahasa?
Bahasa Sebagai Cermin Moral-Mental
Kajian sosiolinguistik menempatkan bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan indeks sikap, nilai, dan relasi kuasa. Fishman menegaskan bahwa penggunaan bahasa selalu merepresentasikan siapa kita dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Ketika guru memanggil siswa dengan label “anak bodoh” atau siswa menjawab guru dengan “terserah”, sejatinya sedang terjadi peluruhan modal moral. Bahasa merendahkan melahirkan mentalitas inferior, sementara bahasa sarkastik di ruang kelas digital mengikis empati.
Penelitian Cummins tentang _collaborative power relations_ menyebut, iklim kelas yang bahasanya otoriter-defensif akan mematikan nalar kritis siswa. Sebaliknya, tuturan apresiatif guru seperti “pendapatmu menarik, coba jelaskan lagi” mampu membangun _academic self-concept_ yang sehat.
Disrupsi Digital: Medan Baru, PR Baru
Moral-mental guru dan siswa hari ini diuji di dua medan: luring dan daring. Di WhatsApp Group kelas, sering muncul singkatan, emoji marah, hingga _leave group_ sebagai ekspresi kecewa. Di TikTok, komentar “guru killer” atau “beban tugas” menjadi bahasa perlawanan simbolik siswa. Holmes menyebut fenomena ini _language and identity practice_: siswa membangun identitas kolektif melalui pilihan diksi. Jika dibiarkan, ruang digital jadi pabrik normalisasi kekerasan verbal.
Guru pun tidak kebal. Beban administratif, tekanan kurikulum, dan _cyberbullying_ dari orang tua murid kerap memicu kelelahan berbahasa: instruksi jadi ketus, apresiasi jadi langka. Padahal, menurut teori kesantunan Brown & Levinson, menjaga _face_ mitra tutur adalah kunci relasi pedagogis yang sehat.
Hardiknas Sebagai Revolusi Tutur
Semangat Ki Hadjar Dewantara “Ing ngarso sung tulodho” hari ini harus diterjemahkan menjadi “Ing lathi, sung nguwongke”. Keteladanan dimulai dari lidah. Ada tiga praksis sosiolinguistik yang bisa dicanangkan pasca Hardiknas:
- Literasi Tutur Positif: Sekolah wajib punya “Kamus Sapaan Kelas” yang disepakati guru-siswa. Ganti “Jangan berisik!” dengan “Kita fokus yuk”.
- Audit Wacana Digital Sekolah: OSIS dan guru membuat kesepakatan _netiquette_ di grup kelas. Pelanggaran verbal diberi sanksi edukatif.
- Panggung Narasi Apresiatif: Beri ruang 5 menit di awal pelajaran untuk “Satu Kalimat Baik Hari Ini”. Kebiasaan mikro ini, menurut studi Tannen, mampu mereparasi _rapport_ yang retak.
Hardiknas bukan tentang seberapa megah panggung, melainkan seberapa santun panggung tutur kita. Sebab bangsa yang besar dimulai dari ruang kelas yang bahasanya memanusiakan. Guru yang mentalnya tangguh akan melahirkan siswa yang moralnya utuh. Dan itu semua berpangkal pada satu hal: pilihan kata.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Mari merdeka dari tutur yang melukai.
Referensi
- Fishman, J. A. 1972. _Language in Sociocultural Change_. Stanford University Press.
- Cummins, J. 2000. _Language, Power, and Pedagogy_. Multilingual Matters.
- Brown, P. & Levinson, S. C. 1987. _Politeness: Some Universals in Language Usage_. Cambridge University Press.
- Holmes, J. 2013. _An Introduction to Sociolinguistics_. 4th ed. Routledge.
- Tannen, D. 1994. _Talking from 9 to 5_. Avon Books.
- KPAI. 2025. _Catatan Pelanggaran Hak Anak di Bidang Pendidikan 2025_. Jakarta: KPAI.
Dr. Diana Anggraeni, S.S., M.Hum.
Dosen Sastra Inggris, Kepala Pusat Urusan Internasional LPMPP UBB. Ketua Asosiasi HISKI Komisariat Bangka Belitung 2024–2028. Aktif meneliti sosiolinguistik, pragmatik, dan pengajaran BIPA. Email: diana.anggraeni@ubb.ac.id













