Banjarmasin, Kabarmetro.co –
Menjelang sore, Masjid Baabut Taqwa menjadi tempat warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin menepi sejenak dari rutinitas. Di antara aktivitas pembinaan yang dijalani, waktu salat menjadi kesempatan untuk menenangkan hati, menundukkan diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Warga binaan mengikuti salat Ashar berjemaah dengan tertib dan khusyuk pada Kamis (15/10). Dalam saf yang tersusun rapi, mereka menunaikan ibadah bersama, menjadikan setiap gerakan salat sebagai pengingat akan pentingnya kesabaran, keikhlasan, dan tekad untuk memperbaiki diri.
Bagi warga binaan, ibadah berjemaah bukan sekadar menjalankan kewajiban agama. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk membangun ketenangan batin dan menumbuhkan harapan. Di tengah perjalanan menjalani masa pembinaan, nilai-nilai spiritual dapat menjadi pegangan untuk menghadapi masa lalu sekaligus mempersiapkan langkah menuju masa depan.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan kerohanian merupakan bagian penting dalam membentuk karakter warga binaan. Penguatan spiritual diharapkan berjalan seiring dengan pembinaan lainnya agar perubahan yang dibangun tidak hanya terlihat dari keterampilan, tetapi juga dari sikap dan perilaku.
“Pembinaan bukan hanya tentang membekali warga binaan dengan keterampilan, tetapi juga membangun kesadaran dan karakter yang lebih baik. Kami berharap, melalui pembiasaan ibadah, tumbuh keimanan, keteguhan hati, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Binadik), Gilang Wisnuwardhana, menjelaskan bahwa kegiatan ibadah berjemaah menjadi bagian dari pembinaan kepribadian yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Pembiasaan ini diharapkan membantu warga binaan menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
“Salat berjemaah mengajarkan kedisiplinan, kebersamaan, dan kepatuhan dalam menjalankan kewajiban. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan saat beribadah, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari selama menjalani masa pembinaan,” jelasnya.
Sore itu, rangkaian ibadah menjadi pengingat bahwa kesempatan memperbaiki diri selalu terbuka. Perubahan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar, tetapi dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, termasuk menjaga salat dan memperkuat hubungan spiritual.
Melalui pembinaan kerohanian yang berkelanjutan, Lapas Banjarmasin terus mendorong warga binaan untuk menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam menjalani masa pembinaan dan mempersiapkan diri kembali ke tengah keluarga serta masyarakat. (Humas Lapas Banjarmasin)














