Tangerang Selatan
KabarMetro.co
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Sosial Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Dr. Diana Mutiah, menggaungkan pentingnya penguatan psikososial perempuan melalui materi pengenalan potensi diri dalam kegiatan Pelatihan Make Up Daily bertajuk “Cantik Luar Dalam”, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Dinas Sosial Kota Tangerang Selatan tersebut merupakan hasil kerja sama DWP Dinsos Tangsel dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Juwita Nusantara. Pelatihan ini diikuti 24 peserta yang terdiri atas pengurus DWP Dinsos Tangsel dan pengurus Fatayat Nahdlatul Ulama (NU).
Sebelum pelatihan tata rias sehari-hari dimulai, Dr. Diana Mutiah memberikan materi bertajuk “Aku Berharga, Aku Punya Kekuatan”. Materi tersebut bertujuan membangun kesadaran perempuan terhadap nilai diri, mengenali potensi yang dimiliki, serta meningkatkan kepercayaan diri, baik dari sisi penampilan maupun kesehatan psikososial.
Dalam penyampaiannya, Diana mengajak para peserta untuk memahami bahwa setiap perempuan memiliki nilai dan kekuatan yang tidak ditentukan semata-mata oleh kondisi kehidupan, penampilan fisik, maupun penilaian orang lain.
Menurutnya, proses pengembangan diri bukan tentang menjadi pribadi yang sempurna, melainkan belajar mengenali kemampuan diri dan menemukan langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan untuk menjadi lebih baik.
Ia juga mengajak peserta untuk lebih jujur dalam mengenali perasaan. Diana mengibaratkan kondisi emosional seseorang seperti cuaca yang dapat berubah-ubah, mulai dari perasaan tenang, banyak pikiran, sedih, hingga tertekan. Kondisi tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia yang perlu dipahami dan dikelola dengan baik.
“Perjalanan hidup boleh berubah, tetapi harga diri tetap ada. Setiap perempuan layak dihormati, memiliki kemampuan, berhak meminta pertolongan, dan terus belajar untuk mengembangkan dirinya,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam materi tersebut.
Selain mengenali emosi, Diana mendorong para peserta untuk mengidentifikasi kekuatan yang ada dalam diri masing-masing, seperti ketekunan, kepedulian, kecerdikan, dan kejujuran. Sementara itu, kekurangan hendaknya tidak dipandang sebagai tanda kegagalan, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran yang dapat diperbaiki secara bertahap.
Untuk membantu peserta mengelola emosi, khususnya ketika menghadapi situasi yang memicu kemarahan atau tekanan, Diana memperkenalkan metode STOP, yaitu Stop(berhenti sejenak), Tarik napas, Observasi (mengenali perasaan yang muncul), dan Pilih respons yang lebih aman serta tepat.
Metode tersebut diharapkan dapat membantu perempuan mengambil jeda sebelum bereaksi, sehingga mampu menghadapi persoalan dengan lebih tenang dan mempertimbangkan dampak dari tindakan yang akan dilakukan.
Dalam hal komunikasi, Diana juga memberikan contoh penggunaan kalimat yang mengungkapkan perasaan dan kebutuhan secara jelas tanpa menyalahkan pihak lain. Pola komunikasi tersebut menggunakan ungkapan, “Saya merasa… karena… saya butuh…”.
Sebagai contoh, daripada melontarkan kalimat yang bernada menyalahkan, seseorang dapat menyampaikan kondisi dan kebutuhannya dengan lebih terbuka, seperti, “Ibu tahu kamu butuh uang. Saat ini belum cukup. Yuk, kita cari jalan sama-sama.”
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu membangun komunikasi yang lebih sehat dalam keluarga, terutama ketika menghadapi persoalan sehari-hari yang berpotensi menimbulkan konflik.
Diana juga menegaskan bahwa kemandirian bukan berarti seorang perempuan harus menanggung seluruh persoalan seorang diri. Dukungan dari keluarga, teman, tetangga, maupun tenaga profesional, termasuk petugas di Puskesmas, dapat menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Melalui kegiatan ini, pelatihan “Cantik Luar Dalam” tidak hanya berfokus pada keterampilan merias wajah untuk menunjang penampilan, tetapi juga memberikan ruang bagi perempuan untuk mengenali potensi diri, membangun kepercayaan diri, serta memperkuat kemampuan dalam mengelola emosi dan menjalin komunikasi yang sehat.
Diana berharap, materi yang disampaikan dapat menjadi bekal bagi para peserta untuk menerapkan pola pikir positif dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Menutup materinya, Diana mengajak seluruh peserta untuk menghargai diri sendiri dan tidak merasa harus melakukan perubahan besar dalam waktu singkat.
“Saya berharga, saya punya kekuatan, saya bisa tumbuh. Tidak perlu berubah sekaligus, mulai saja dari satu langkah kecil,” ujar Dr. Diana Mutiah.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan perempuan dapat dimulai dari kesadaran akan nilai diri, keberanian mengenali perasaan, serta kemauan untuk terus belajar dan bertumbuh. Dengan demikian, perempuan diharapkan semakin percaya diri, tangguh secara psikososial, dan mampu menjalani perannya dalam keluarga maupun masyarakat dengan lebih baik.














