Daerah

Tikus Hitam Bergerombol, Tikus Putih Menyendiri: Antara Kekuatan Kelompok Dan Tegasnya Prinsip Untuk Hidup

×

Tikus Hitam Bergerombol, Tikus Putih Menyendiri: Antara Kekuatan Kelompok Dan Tegasnya Prinsip Untuk Hidup

Sebarkan artikel ini

Oleh: Tri Agus, –

Di dalam ruang besar yang menjadi tempat penyimpanan harta dan kebutuhan bersama, kehidupan berjalan dengan aturan yang tidak tertulis namun sangat dipahami oleh seluruh penghuninya.

Di sana, terlihat jelas dua watak besar yang saling bertolak belakang, namun hidup berdampingan dalam satu ruang lingkup. Ada sekelompok tikus berwarna hitam, yang jumlahnya banyak, selalu bergerombol, bergerak serentak, dan seolah tak pernah terpisahkan. Di sisi lain, ada seekor tikus berwarna putih, yang berjalan sendiri, tak pernah ikut dalam kerumunan, dan tak pernah sekalipun terlihat berusaha mendekat atau berkompromi dengan kelompok tikus hitam itu.

Bagi para tikus hitam, persekutuan adalah kekuatan utama mereka. Mereka berkumpul bukan semata-mata karena persahabatan, melainkan karena satu tujuan yang sama: mengambil apa saja yang bisa diambil, menikmati apa saja yang bisa dinikmati, dan saling melindungi agar tidak tersentuh bahaya.

Mereka tahu betul bahwa jika berjalan sendirian, risikonya besar. Mereka bisa saja tertangkap, bisa saja disalahkan, atau bisa saja kehilangan kesempatan mendapatkan bagian. Maka dari itu, mereka menciptakan ikatan erat antar sesama jenis. Tikus hitam hanya mau bergaul dengan tikus hitam lainnya.

Dalam gerombolan itu, segala sesuatu dibahas, direncanakan, dan disepakati bersama. Di antara mereka, tak ada istilah salah atau benar, yang ada hanyalah untung dan rugi. Jika ada satu tikus hitam yang mendapat peluang mendapatkan makanan besar, maka tikus-tikus hitam lainnya akan segera didekati, diajak berbagi peran, dan dipastikan mendapatkan jatah masing-masing. Jika ada satu yang terancam, seluruh gerombolan akan bergerak membelanya, menutupi kesalahan kawannya, atau bahkan mengalihkan tuduhan kepada pihak lain. Di sini, kompromi adalah hukum tertinggi. Semua bisa ditawar, semua bisa diatur, asalkan kepentingan kelompok tetap terjaga dan kantong masing-masing tetap terisi. Warna hitam mereka menjadi tanda persaudaraan, sekaligus tanda persekutuan dalam setiap perbuatan, baik yang terpuji maupun yang tercela.

Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh tikus putih. Ia berdiri sendiri, berjalan sendiri, dan bekerja pun sendiri. Ia tidak memiliki kelompok, tidak memiliki pengikut, dan tidak mau memiliki sekutu. Saat para tikus hitam berkumpul berbisik di sudut ruangan, tikus putih itu hanya memandang sekilas dengan tatapan dingin, lalu berlalu pergi ke tempat lain. Ia tak pernah berusaha ikut bergabung, dan seolah-olah tembok tak terlihat selalu memisahkan jalannya dengan jalur gerombolan itu.

Yang paling mencolok adalah sikapnya yang tanpa basa-basi dan tak mau berkompromi. Ketika ada tawaran ajakan dari salah satu tikus hitam untuk “duduk bersama dan berbagi rezeki”, tikus putih itu menolak secara tegas tanpa perlu berpanjang lebar. Tak ada tawar-menawar, tak ada pertimbangan untung-rugi, dan tak ada niat untuk menyejukkan suasana. Baginya, prinsip adalah hal yang mutlak. Apa yang benar akan dilakukan, apa yang salah akan ditinggalkan, dan tidak ada titik tengah di antaranya. Ia tidak mau membiarkan warnanya ikut ternoda hanya demi keamanan atau kenyamanan sesaat.

Tikus putih itu sadar betul bahwa dengan menyendiri, risikonya jauh lebih besar. Ia tidak punya perlindungan massal, tidak punya siapa-siapa yang akan menolong jika ia tersandung masalah, dan posisinya selalu rentan diserang atau dikucilkan oleh gerombolan yang jauh lebih banyak jumlahnya itu. Para tikus hitam pun sering kali menertawakan tikus putih itu. Mereka menganggapnya bodoh, kaku, tidak mengerti cara bergaul, dan tidak paham seni berpolitik. “Untuk apa punya prinsip kalau perut masih lapar?” begitu bisik salah satu tikus hitam sambil tertawa sinis, merasa dirinya jauh lebih cerdas dan pandai beradaptasi.

Namun, di balik kesendiriannya itu, tikus putih memegang satu keunggulan besar yang tidak dimiliki oleh gerombolan tikus hitam: kejernihan hati dan kebersihan tangan. Karena tidak pernah ikut bergerombol dalam perencanaan kotor, ia tidak perlu takut ketahuan. Karena tidak pernah berkompromi dengan yang salah, ia tidak perlu khawatir suatu saat akan dikhianati oleh kawan sendiri demi menyelamatkan diri. Ia berjalan tegak, tidak perlu menengok ke kiri dan kanan takut ada rahasia yang terbongkar.

Kondisi ini adalah gambaran nyata yang sering kita temui di masyarakat, di pemerintahan, maupun di organisasi. Di mana pun ada kekuasaan dan kepentingan, pasti akan muncul kelompok-kelompok yang bergerombol hanya demi mengamankan keuntungan pribadi dan golongan, saling menguatkan dalam kebiasaan buruk, dan siap berkompromi di atas segalanya. Namun di sisi lain, masih ada mereka yang memilih jalan sunyi, yang memegang teguh prinsip, yang tidak mau bercampur baur dengan praktik yang salah, dan menolak berkompromi meski tawaran keuntungan besar digelar di depan mata.

Tikus hitam memang terlihat kuat karena jumlahnya banyak dan ikatannya rapat. Namun, kekuatan itu rapuh karena dibangun di atas kepentingan sesaat. Begitu makanan habis atau bahaya datang, persekutuan itu mudah retak. Sedangkan tikus putih yang menyendiri itu, meski tampak lemah dan sendirian, sesungguhnya memiliki kekuatan yang tak tergoyahkan: kekuatan kebenaran dan keberanian untuk tetap berbeda, bahkan ketika seluruh lingkungan sekitarnya memilih jalan yang keliru.

Pada akhirnya, sejarah dan waktu yang akan menjawab. Siapa yang akan bertahan lama dan tetap bersih, dan siapa yang pada akhirnya akan tertangkap karena jejak hitam yang mereka tinggalkan bersama-sama.

(TAW)


Catatan Redaksi: Opini ini hanyalah salah satu karya dari TAW, Aktifis sekaligus Penulis Jalanan menyikapi kegelisahan hati yang menggambarkan sebagian akan keresahan publik. Apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan atas karya ini, bisa melakukan sanggahan maupun upaya hukum lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *