Daerah

Ketika Para Tikus Berkumpul: Menu, Rencana dan Kepentingan Yang Dibungkus Rapi

×

Ketika Para Tikus Berkumpul: Menu, Rencana dan Kepentingan Yang Dibungkus Rapi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Tri Agus, –

Di sudut gudang yang remang, jauh dari jangkauan cahaya dan pengawasan, terdengar suara berbisik-bisik. Suara itu halus namun penuh semangat, seolah sedang membahas sesuatu yang sangat berharga. Di sana, berkerumunlah sekelompok tikus besar dan kecil, tua dan muda. Mereka datang dari berbagai celah, membawa berita, membawa harapan, dan membawa ambisi masing-masing. Topik pembicaraannya hanya satu: makanan yang tersedia melimpah di tengah ruangan itu, dan bagaimana cara membaginya demi kepentingan mereka sendiri.

Bagi para tikus ini, “makanan” bukan sekadar butiran beras atau remah roti biasa. Makanan itu adalah kekayaan yang melimpah, sumber daya yang tak habis-habisnya, dan peluang emas yang terbentang luas. Di mata mereka, makanan itu ada di sana bukan untuk pemilik gudang, melainkan untuk mereka yang pandai mengambil kesempatan. Makanan itu adalah anggaran, proyek, kuasa, dan segala sesuatu yang bernilai, yang seharusnya menjadi milik bersama, namun berubah menjadi sasaran utama perburuan mereka.

Pertemuan ini bukan sekadar ngobrol kosong. Ini adalah rapat strategi. Tikus yang paling besar dan tua, yang dianggap pemimpin, membuka pembicaraan dengan nada berwibawa. Ia bercerita tentang peta gudang, di mana letak tumpukan makanan paling lezat berada, mana yang mudah dijangkau, dan mana yang dijaga ketat. “Kita harus pintar-pintar mengatur langkah,” katanya sambil menggosokkan kedua kaki depannya. “Makanan ini banyak, tapi tidak boleh diambil sembarangan. Kita harus punya aturan main sendiri.”

Lalu muncul pembahasan tentang pembagian peran. Ada yang ditugaskan menjadi pengintai, ada yang bertugas mengatur jalan masuk, ada yang bertugas mengangkut, dan ada pula yang bertugas menjadi pengalih perhatian jika tiba-tiba ada bahaya datang. Semuanya memiliki tugas, semuanya punya jatah. Tidak ada yang bekerja cuma-cuma. Setiap jasa dan peran yang dimainkan, dihitung rapi nilainya. Makanan yang didapat nanti pun dibagi sesuai porsi jabatan dan kekuasaan. Semakin besar pengaruhnya, semakin dekat dengan pusat kekuasaan kelompok, semakin besar pula bagian yang didapat.

Yang paling menarik adalah bagaimana mereka membungkus kepentingan pribadi ini dengan kata-kata indah. Mereka tidak menyebutnya sebagai pencurian atau perampasan. Tidak. Dalam diskusi mereka, hal itu disebut sebagai “hak”, “bagian yang wajar”, atau “upah atas jasa dan pemikiran”. Mereka saling meyakinkan satu sama lain bahwa apa yang mereka lakukan itu benar, sah, dan perlu. Bahkan, mereka menyusun alasan yang sedemikian rupa agar merasa menjadi pihak yang paling berhak menikmati rezeki itu. “Kita yang bekerja keras mengurus ini semua, sudah sepantasnya kita yang menikmati hasilnya,” begitu kalimat manis yang terus dikumandangkan berulang kali.

Menariknya lagi, di antara mereka pun tidak sepenuhnya rukun. Di balik senyum dan kesepakatan, terselip persaingan. Ada yang ingin porsi lebih besar, ada yang iri dengan posisi kawannya, ada yang mengancam akan membongkar rahasia jika keinginannya tidak dipenuhi. Diskusi tentang makanan dan kepentingan ini ternyata juga penuh dengan tarik-menarik, tawar-menawar, dan politik di tingkat bawah tanah. Persekutuan mereka hanya bertahan selama kepentingan masing-masing masih terpenuhi. Begitu ada yang merasa dirugikan atau ada makanan baru yang lebih besar ditemukan, barisan itu bisa saja retak dan saling serang satu sama lain.

Kita semua tahu apa yang terjadi pada akhirnya. Gudang yang terus-menerus digerogoti akan menjadi rapuh. Makanan yang seharusnya cukup untuk semua penghuni gudang, habis diangkut ke lubang-lubang persembunyian pribadi para tikus itu. Yang tersisa hanyalah sisa-sisa sampah dan kerusakan di sana sini.

Pertemuan para tikus itu hanyalah gambaran kecil dari apa yang sering kita saksikan di lingkungan kita, di pemerintahan, di lembaga, di organisasi mana pun. Ketika sekelompok orang berkumpul, bukan untuk membahas bagaimana mengelola aset bersama agar bermanfaat bagi banyak orang, melainkan hanya sibuk menghitung apa yang bisa mereka ambil, bagaimana cara membaginya, dan siapa yang berhak mendapatkan porsi terbesar, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan persis apa yang terjadi di sudut gudang itu.

Mereka berkumpul, merencanakan, dan membagi-bagikan rezeki yang bukan haknya, sambil berpura-pura seolah sedang melakukan pekerjaan mulia. Dan yang paling menyedihkan: sering kali pemilik gudang terlambat menyadari bahwa kekayaan miliknya telah habis, bukan karena habis dipakai, melainkan karena telah lama dibawa lari oleh para tikus yang pandai bersandiwara dan pandai berpolitik.

(TAW)


Catatan Redaksi: Opini ini hanyalah salah satu karya dari TAW, Aktifis sekaligus Penulis Jalanan menyikapi kegelisahan hati yang menggambarkan sebagian akan keresahan publik. Apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan atas karya ini, bisa melakukan sanggahan maupun upaya hukum lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *